image-1766924087401-465253657.jpg
Regulasi

Kenali 3 Bakteri Jahat yang Dapat Mengancam Produk Pangan Perusahaan Anda

26 Desember 2025

Industri pangan saat ini semakin ketat pengawasannya. Keamanan produk tidak lagi hanya menjadi kewajiban operasional, melainkan tuntutan regulasi dan ekspektasi pasar. BPOM, standar HACCP, hingga ISO 22000 secara tegas menekankan pentingnya pengendalian bahaya biologis sebagai bagian dari sistem manajemen keamanan pangan. Salah satu ancaman paling serius yang kerap luput dari perhatian adalah kontaminasi bakteri patogen. Meski tidak terlihat, bakteri berbahaya dapat berkembang cepat akibat celah kecil dalam proses produksi, sanitasi, atau penyimpanan. 


Dampaknya tidak hanya berujung pada keluhan konsumen atau kerugian finansial, tetapi juga berpotensi memicu sanksi hukum, penarikan produk, dan penurunan kepercayaan terhadap merek. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai jenis bakteri yang paling berisiko serta cara pengendaliannya menjadi langkah strategis bagi perusahaan pangan dalam membangun sistem keamanan pangan yang patuh regulasi dan berkelanjutan.


Untuk memahami seberapa besar risiko yang dapat ditimbulkan, perusahaan pangan perlu mengenali jenis bakteri patogen yang paling sering menjadi penyebab kontaminasi produk. Setiap bakteri memiliki karakteristik, sumber, dan dampak yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan pengendalian yang spesifik dan terstruktur. Berikut tiga bakteri berbahaya yang perlu menjadi perhatian utama dalam sistem manajemen keamanan pangan perusahaan.


  1. Salmonella spp

Salah satu bakteri patogen yang paling sering menyebabkan kasus penyakit bawaan pangan (foodborne illness). Bakteri ini dapat masuk ke dalam produk pangan melalui bahan baku, air, peralatan produksi, maupun praktik higiene yang tidak memadai. Sumber kontaminasi yang umum berasal dari:

  • Daging unggas dan telur mentah
  • Daging segar yang tidak ditangani dengan benar
  • Susu dan produk olahannya
  • Air proses dan peralatan yang tidak memenuhi standar sanitasi

Dari sisi regulasi, Salmonella termasuk bahaya biologis utama yang wajib dikendalikan dalam sistem HACCP dan ISO 22000. Kegagalan mengendalikan bakteri ini dapat menyebabkan keracunan dengan gejala diare, demam, hingga dehidrasi berat, terutama pada kelompok rentan. Bagi perusahaan, kontaminasi Salmonella berisiko memicu penarikan produk, audit mendadak oleh otoritas, serta penurunan kepercayaan pasar.


2. Escherichia coli (E. coli)
Escherichia coli merupakan bakteri yang secara alami terdapat di lingkungan dan saluran pencernaan manusia maupun hewan. Namun, beberapa strain patogen seperti E. coli O157:H7 dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius. Sumber kontaminasi bakteri ini berasal dari:

  • Daging sapi mentah atau kurang matang
  • Sayuran segar yang terkontaminasi air tidak higienis
  • Kontaminasi silang antara bahan mentah dan produk siap konsumsi
  • Praktik kebersihan karyawan yang tidak konsisten

E. coli sering menjadi indikator lemahnya pengendalian sanitasi dan personal hygiene dalam fasilitas produksi. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan diare berdarah, kram perut berat, hingga komplikasi serius seperti gagal ginjal.

Dalam konteks manajemen risiko pangan, pengendalian E. coli menuntut perusahaan untuk memiliki prosedur sanitasi, pelatihan karyawan, serta pemantauan titik kritis yang terdokumentasi dengan baik.


3. Listeria monocytogenes
Listeria monocytogenes dikenal sebagai bakteri yang sangat berbahaya karena mampu bertahan dan berkembang pada suhu rendah, termasuk di area pendinginan dan penyimpanan dingin. Bakteri ini dapat memberikan kontaminasi utama melalui:

  • Produk siap konsumsi (ready-to-eat)
  • Daging olahan dan produk susu
  • Lingkungan produksi yang lembap dan sulit dibersihkan
  • Drainase dan area tersembunyi di fasilitas produksi

Listeria sangat berisiko bagi ibu hamil, bayi, dan lansia, karena dapat menyebabkan infeksi serius seperti listeriosis yang berujung pada keguguran atau kematian. Oleh karena itu, pengendalian bakteri ini menjadi perhatian utama dalam audit keamanan pangan. Bagi perusahaan pangan, temuan Listeria sering kali mengindikasikan kelemahan dalam pengendalian lingkungan produksi (environmental monitoring) dan sanitasi fasilitas.


Mengapa Perusahaan Pangan Perlu Waspada?

Ketiga bakteri di atas menunjukkan bahwa ancaman keamanan pangan tidak hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga dari proses produksi yang tidak terkendali, sistem sanitasi yang tidak konsisten, serta kurangnya pemahaman risiko biologis di tingkat operasional. Tanpa sistem manajemen keamanan pangan yang terstruktur, risiko kontaminasi akan terus berulang dan sulit dikendalikan secara preventif.


Mengelola risiko kontaminasi bakteri tidak cukup hanya dengan kesadaran, tetapi memerlukan sistem, prosedur, dan pengendalian yang sesuai standar. Top Pangan Consulting siap mendampingi perusahaan pangan dalam membangun dan memperkuat sistem keamanan pangan berbasis HACCP dan ISO 22000, mulai dari identifikasi bahaya, pengendalian risiko, hingga persiapan audit. Dengan pendekatan yang terstruktur dan aplikatif, perusahaan dapat memastikan kepatuhan regulasi sekaligus menjaga kepercayaan konsumen secara berkelanjutan. Konsultasi awal secara gratis sekarang!


Keywords

bakteri pangankeamanan pangankontaminasi panganhaccpiso 22000bahaya biologisindustri pangansanitasi pangansistem manajemen keamanan pangan