image-1767946094060-648454406.jpg
Regulasi

Traceability Sebagai Langkah Strategis Mencegah Risiko dan Penarikan Produk

9 Januari 2026

Menjaga keamanan produk tidak cukup dijaga hanya pada tahap akhir sebelum dipasarkan. Setiap bahan baku, proses produksi, hingga distribusi harus dapat ditelusuri secara jelas dan terdokumentasi. Di sinilah traceability berperan sebagai fondasi penting dalam sistem keamanan pangan yang andal dan berkelanjutan.

Traceability memungkinkan pelaku usaha mengetahui secara pasti asal bahan baku, alur pengolahan, serta riwayat produk sebelum dikonsumsi oleh konsumen. Bagi pemilik bisnis pangan, khususnya segmen B2B, sistem ini menjadi kunci untuk memastikan produk yang dipasarkan benar-benar aman dan dapat dipertanggungjawabkan.


Baca juga: Peraturan BPOM tentang Peredaran Kosmetik di Indonesia: Panduan Penting bagi Pemilik Bisnis Kosmetik


Risiko Bisnis Tanpa Sistem Traceability yang Kuat

Tanpa traceability yang baik, perusahaan akan menghadapi kesulitan besar saat terjadi temuan kontaminasi, keluhan pelanggan, atau audit regulator. Ketika sumber masalah tidak dapat diidentifikasi dengan cepat, risiko penarikan produk (product recall) secara luas menjadi tidak terhindarkan.

Dampaknya tidak hanya pada kerugian finansial, tetapi juga penurunan reputasi dan kepercayaan mitra bisnis. Sebaliknya, sistem traceability yang terstruktur memungkinkan perusahaan melakukan identifikasi masalah secara spesifik dan cepat, sehingga dampak risiko dapat ditekan seminimal mungkin.


Studi Kasus: Traceability pada Industri Pengolahan Udang

Penerapan traceability yang efektif dapat dilihat dari studi kasus di PT Red Ribbon Jakarta pada produk udang vannamei breaded beku. Perusahaan ini menerapkan ketertelusuran internal mulai dari penerimaan bahan baku, proses pengolahan, hingga produk akhir melalui pencatatan suhu, pengkodean batch, dan identitas pemasok.

Hasil penerapan tersebut menunjukkan bahwa mutu bahan baku dan produk akhir tetap terjaga. Uji organoleptik serta uji mikrobiologi seperti ALT, E. coli, dan coliform terbukti memenuhi standar SNI. Studi ini menegaskan bahwa traceability tidak hanya menjadi kewajiban administratif, melainkan alat nyata dalam pengendalian risiko keamanan pangan.


Nilai Strategis Traceability bagi Bisnis B2B

Bagi perusahaan B2B, traceability juga berfungsi sebagai nilai tambah strategis. Banyak klien korporasi, retailer modern, dan pasar ekspor mensyaratkan transparansi rantai pasok sebagai dasar kerja sama. Sistem traceability yang terdokumentasi dengan baik akan mempermudah pemenuhan standar seperti HACCP dan ISO 22000.

Selain itu, data traceability membantu manajemen mengevaluasi kinerja pemasok, mengidentifikasi titik rawan risiko, serta meningkatkan efisiensi proses produksi. Dengan pendekatan ini, traceability tidak hanya melindungi konsumen, tetapi juga mendukung keberlanjutan bisnis.


Saatnya Membangun Sistem Traceability yang Terukur

Keamanan pangan dimulai jauh sebelum produk dikonsumsi. Memahami latar belakang produk melalui sistem traceability yang efektif adalah langkah strategis untuk melindungi konsumen sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.

Top Pangan Consulting siap mendampingi bisnis Anda dalam merancang dan mengimplementasikan sistem traceability yang sesuai dengan karakteristik industri, regulasi, dan tuntutan pasar. Dengan pendekatan yang terstruktur dan aplikatif, kami membantu memastikan sistem keamanan pangan Anda tidak hanya patuh standar, tetapi juga memberikan nilai strategis bagi pertumbuhan bisnis. Klik di sini untuk memulai konsultasi awal secara gratis!


Keywords

keamanan pangantraceability panganketelusuran panganketahanan pangansistem traceabilitymanajemen risiko panganrantai pasok panganketertelusuran bahan baku